Search This Blog

Showing posts with label produk lokal. Show all posts
Showing posts with label produk lokal. Show all posts

Thursday, 21 September 2017

Harga pinang buah di pasar Hamadi kembali normal

Mama-mama Papua menjajakan jualan pinang di atas tanah beralaskan kain di pasar Hamadi, Kota Jayapura – Jubi/Abeth You

Mama-mama Papua menjajakan jualan pinang di atas tanah beralaskan kain di pasar Hamadi, Kota Jayapura – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Harga jual pinang buah per kilogram di pasar Hamadi kini harga berada pada kisaran Rp 30 ribu per kilogram. Beberapa sebelumnya, harga pinang sempat turun per kilogram hanya Rp 15 ribu, bahkan pernah sampai angka Rp 10 ribu.

Mama Yulita (63) seorang penjual pi­nang di pasar Hamadi, mengatakan mulai stabilnya harga pinang memicu se­mangatnya untuk menjual pi­nang.

“Satu kilo harganya Rp 30 ribu. Belum ada kanaikan harga. Padahal, proses memanen pinang cukup sulit. Mulai dari me­ngambil dari batang yang tinggi. Proses itu me­ma­kan waktu cukup lama. Sementara harganya kurang ideal,” ujar mama Yulita, kepada Jubi, Kamis (21/9/2017).

Rosa (34), penjual pinang lainnya, juga bersyukur dengan naik­nya harga pinang kendati masih turun naik. Harga jual yang lumayan menambah semangat untuk lebih me­melihara pinang untuk me­nambah pendapatan.

Kata dia, turun naiknya harga pinang sangat tergantung peme­sa­nan serta kualitas dari pinang.

“Jika kualitasnya baik dan super, harga jualnya juga naik,” imbuhnya.

Menurutnya, naik tu­run­nya harga jual buah pinang ini tak bisa diprediksi karena pengepul juga ter­gantung kepada pe­mesan atau permintaan pasar. Jika per­mintaan pasar banyak, harga pinang bisa di­pastikan me­ngikuti kenaikan harga pe­sanan pasar.

“Selain itu, pe­ngaruh hari libur dan hari besar lainnya juga bisa me­mengaruhi harga pasar,” ucapnya. (*)

 

The post Harga pinang buah di pasar Hamadi kembali normal appeared first on PAPUA.business.

Sunday, 2 July 2017

Produk olahan rumput laut Sarawandori butuh dorongan

Jayapura, Jubi – Ross Wondiwoi, ketua Kelompok 2 Wamayakawa mengungkapkan,  produk makanan olahan tradisional dari rumput laut yang berasal dari kelompoknya yaitu stick, mie, dodol, agar-agar, bakso, dan manisan masih terkendala dengan pemasaran dan uluran bantuan permodalan.

“Diakui kami masih terbentur dengan pemasaran yang masih jauh dari kata mencukupi, setiap minggu kami hanya berproduksi 20 kg dengan bahan baku yang cukup mahal, didapatkan dengan harga Rp30 ribu per kg rumput laut, ” ujarnya.

Meski begitu, usaha yang didirikannya bersama 10 anggota dapat berjalan secara tradisional dengan banyak produknya dibawa ke Jakarta, Aceh, bahkan Belanda.

“Kita masih butuh tempat kerja bagi anggota, ini sangat penting,” ujarnya.

Ia berharap agar ada uluran bantuan dari pemerintah atau pihak swasta, dalam hal ini perbankan untuk bisa membantu kelancaran permodalan usaha bersama.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Joko Supratikto menanggapi hal tersebut. BI, katanya, akan mencoba melakukan program pelatihan pencatatan usaha mikro usaha kecil dalam pembinaan transaksi keuangan yang memadai.

“Ini jadi informasi bagi saya, tim Kordinasi BUMN dan BUMD yang akan saya sampaikan atas potensi dari rumput laut yang ada, dengan pelatihan ini akan ada perbankan yang tertarik, sebab biasanya proses produksi itu banyak, tetapi menjaga pemasaran sangat sulit,” ujarnya.

Ia juga akan mencoba mereplikasikan program yang pernah berhasil dalam pembinaan dan pembudidayaan rumput laut yang pernah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia lainnya untuk dibawa ke Papua. (*)