Search This Blog

Showing posts with label UMKM. Show all posts
Showing posts with label UMKM. Show all posts

Wednesday, 30 January 2019

KAPP Papua Barat benahi internal organisasi

Manokwari, Jubi – Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) provinsi Papua Barat  mulai membenahi internal kepengurusan untuk melanjutkan visi dan misi organisasi. KAPP Papua Barat berkomitmen membantu Pemerintah Papua Barat di semua bidang pembangunan terutama pelibatan kontraktor asli Papua.

Ketua KAPP di Papua Barat, Boy  Barasano mengatakan pleno perbaikan struktur yang dilakukan juga untuk menyambut instruksi Gubernur Papua Barat. Menurutnya, setelah pembenahan organisasi, KAPP Papua Barat secara aturan akan melapor ke Bappeda untuk turut ambil bagian dalam setiap kegiatan pekerjaan di Provinsi maupun di kabupaten/kota.

“Kami benahi dulu struktur di KAPP ditingkat Provinsi, selanjutnya segera dilakukan pendataan sekaligus penyiapan KAPP di kabupaten/kota se Papua Barat,” ujar Baransano kepada Jubi di Manokwari, Selasa (29/1/2019).

Dia menjelaskan tujuan perombakan struktur, selain untuk menjawab kebutuhan organisasi,  juga untuk menjawab kebutuhan dari masyarakat asli Papua yang terlibat langsung dalam dunia kontraktor modern.  KAPP Papua Barat, lanjut Baransano, tidak terikat dengan program afirmasi (kebijakan) Gubernur soal penunjukan langsung paket pekerjaan kepada kontraktor OAP.

“KAPP di tanah Papua kita satu. Untuk KAPP di Papua Barat, kami tidak terlalu terikat atau berharap dengan program penunjukkan langsung oleh Gubernur. KAPP Papua Barat akan lebih siap untuk bersaing di tingkat lelang baik di Provinsi maupun  tingkat kementerian untuk melihat peluang disana,” katanya.

Senada dengan itu, wakil ketua II  bidang kontraktor KAPP Papua Barat, Novie Marani menambahkan,  perbaikan struktur KAPP Papua Barat ini sekaligus untuk menghapus stigma Pemerintah atau kelompok tertentu yang selama ini memandang KAPP sebagai organisasi yang biasa-biasa saja.

“Tapi sebenarnya, level KAPP sejajar dengan KADIN dan kedepan KADIN akan menjadi anggota luar biasa KAPP,” ujar Marani

Dikatakan Marani, tahun ini KAPP Papua Barat siap mendukung Pemprov Papua Barat dan balai kementerian wilayah  Papua Barat dalam mensukseskan pekerjaan yang disiapkan di tahun anggaran 2019.

“Kami punya data hasil MoU KAPP dengan pemerintah yang disepakati sejak tahun 2003.  Data ini menjadi dasar untuk KAPP turut partisipasi dalam kegiatan pembangunan di Papua Barat. Melalui ini kami minta Pemerintah serius  bina pengusaha OAP agar tidak terus tertinggal, Jadi untuk itulah KAPP Papua Barat juga berbenah ke arah lebih siap,” ujarnya. (*)

The post KAPP Papua Barat benahi internal organisasi appeared first on PAPUA.business.

Thursday, 29 November 2018

Upaya KAP Papua membangkitkan ekonomi OAP

RATUSAN pedagang memadati halaman kantor Gubernur Papua. Mereka datang memenuhi undangan Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua untuk mengikuti pameran akbar yang digelar KAP-Papua dengan tema “Kebangkitan Ekonomi Rakyat Orang Asli Papua”.

Kegiatan tersebut berlangsung 27-28 November 2018. Sejumlah mama-mama penjual noken ikut ambil bagian bersama pengusaha OAP di bidang aksesoris khas Papua, sanggar kulit kayu, pengusaha cafe kopi, salon, toko, dan perbengkelan.

Markus Kabes, pemilik bengkel mobil Rehobot, ketika wawancarai Jubi, mengatakan kegiatan “Kebangkitan Ekonomi Rakyat Orang Asli Papua” sangat penting dan positif.

“Ajang ini diadakan supaya kita bisa tahu bahwa kita sedang berjalan menuju ke arah yang kebangkitan ekonomi orang Papua, di sini kita juga bisa tahu dan bisa mengukur kemampuan ekonomi OAP sudah sampai di mana,” kata Max.

Sekarang, lanjutnya, baru merasakan masing-masing punya ilmu yang dikembangkan bisa menjadi nilai tersendiri untuk dapat dijual. Kegiatan tersebut juga bertujuan memperbaiki taraf hidup orang asli Papua ke arah yang lebih bagus dan lebih mandiri agar bisa menyejahterakan keluarga.

“Gerakan ini dapat memotivasi kita untuk bersaing dengan saudara non Papua, karena saat ini kita tidak bisa duduk saja dan menonton usaha mereka, tapi mari kita bangkit di bidang ekonomi,” kata Max, yang sudah menjalankan usaha bengkelnya selama 9 tahun di jalan SPG Taruna Bakti Waena Kota Jayapura.

Max mengaku baru pertama kali bergabung dengan kegiatan KAP-Papua dan diberi kesempatan untuk pameran.

Max mengusulkan agar pemerintah melalui KAP bisa memberikan bantuan kepada mereka yang serius dalam menjalankan usaha. Sebab bantuan untuk mereka yang menekuni usaha bertahun-tahun tidak pernah disalurkan dana dan jarang diperhatikan. Ini perlu agar mereka yang menekuni usaha bertahun-tahun tidak kecewa.

“Yang menjadi kendala dalam menjalankan usaha adalah modal, usaha tanpa modal tidak akan berjalan dan tidak akan berkembang,” katanya.

Ia berharap pengurus KAP-Papua ke depan dapat bekerja bagus dan jujur kepada masyarakat dan bersikap transparan kepada semua pedagang dan pengusaha OAP. Terlebih soal dana dari pemerintah yang diberikan sesuai dengan kamampuan dan besar-kecil jenis usaha yang mereka tekuni, serta apa yang mereka butuhkan. Sebab hal itu akan membantu orang asli Papua untuk bangkit, mandiri, dan sejahtera.

“Harapan kami kepada KAP-Papua, karena pihak bank selama ini tidak bisa membantu dalam hal memberikan pinjaman modal dan KAP-Papua sebagai perpanjangan tangan pemerintah harus bekerja maksimal untuk merangkul semua pedagang dan pengusaha orang asli Papua,” katanya.

Ketua Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua Merry Yoweni ketika ditemui Jubi di kantornya, mengatakan kegiatan pameran akbar merupakan sejarah pertama kali yang dibuat KAP-Papua sejak  berdiri 2006-2013 hingga akhirnya KAP-Papua diakui pemerintahan Guberur Papua Lukas Enembe.

“Pemerintah mengesahkan KAP-Papua hingga saat ini dengan eksekusi bantuan bentuk hibah kepada semua pengusaha asli Papua lebih dari 7 ribu rekening dan ini pertama kali dilakukan pameran setelah 7 September 2017 kami melakukan deklarasi kebangkitan ekonomi orang asli Papua,” kata Merry.

Pada 2017 sekitar 20-an asosiasi lokal mengakui KAP-Papua sebagai organisasi induk pengusaha Papua. Itu dilakukan untuk memenuhi persyarakatan memproses Pergub No. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Papua.

“Dalam pameran ini kami ingin menyampaikan kepada pemerintah bahwa animo masyarakat tentang dunia usaha naik meskipun ada image negatif yang terbangun di luar, baik media sosial maupun media massa dan kehadiran kemarin menunjukkan ekonomi sangat penting dalam kehidupan kami,” katanya.

Ia menambahkan pameran kemarin hanya sebagai momen untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa anak-anak muda Papua juga bisa.

“Ini akan menyadarkan agar tanah kami ini menjadi sorotan banyak dunia, kesadaran ini menjadi roh kebangkitan orang Papua ke depan,” katanya.

Ia menyebutkan KAP-Papua sudah menampung lebih 10 ribu pengusaha, namun yang menjadi masalah pengurus adalah KAP-Papua tidak memiliki dana operasional setiap tahun sehingga untuk memastikan dan memvalidasi data menjadi terkendala. Padahal itu penting untuk antisipasi agar tidak muncul proposal saja.

“Asosiasi-asosiasi KAP-Papua sudah terbentuk di kabupaten dan kota, namun masih memiliki kelemahan yaitu ketua dan pengurus belum bisa menjalankan 90 persen organisasi, karena terkendala bekerja sama dengan pemerintahan setempat,” katanya.

Ia menambahkan mereka yang sudah mendapatkan modal bantuan 3 tahun ini kurang lebih total Rp 55 miliar. Dana tersebut didistribusikan langsung Pemprov Papua ke setiap OAP. Total 7 ribuan rekening pengusaha.

“Prosesnya dana tidak diberikan kepada KAP-Papua, tetapi KAP-Papua menyiapkan semua data lalu memasukan ke keuangan, dikirim lagi ke Biro Hukum untuk dibuatkan SK Gubernur sehingga SK Gubernur itu menjadi dasar untuk disalurkan ke masyarakat melalui rekening masing-masing, secara kelembagaan KAP-Papua aman dan ini sistem yang baik untuk terus dijalankan,” katanya.

Kata Merry, kehadiran KAP-Papua ke depan diharapkan mengeksekusi tiga persen dana Otsus untuk ekonomi orang asli Papua. Ekonomi ini yang selama ini mandeg dan KAP-Papua ada pada posisi tersebut untuk merangkul semua pengusaha Papua. (*)

Sumber: TablidJubi

The post Upaya KAP Papua membangkitkan ekonomi OAP appeared first on PAPUA.business.

Tuesday, 17 July 2018

Dorong OAP kembangkan usaha ekonomi produktif

Seorang rohaniawan Katolik, Bruder Yohanes Kilok, MTB sedang berikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan – Jubi/Frans L Kobun

Seorang rohaniawan Katolik, Bruder Yohanes Kilok, MTB sedang berikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan – Jubi/Frans L Kobun

SEJAK tahun 2014 silam sampai saat ini, seorang rohaniawan Katolik, Bruder Yohanes Kilok  tak henti-hentinya mendampingi orang asli Papua di kampung-kampung.

Bruder Yohanes Kilok mendorong masyarakat mengembangkan usaha ekonomi kerakyatan dalam bidang pertanian maupun peternakan.

Usaha yang telah dirintis di beberapa kampung lokal itu, telah membuahkan hasil. Dimana, masyarakat sudah bisa mandiri serta memiliki sumber pendapatan, meskipun nilanya tidak menentu.

Saat ditemui Jubi Selasa 17 Juli 2018, Bruder Johny Kilok mengaku  beberapa tahun silam, ia mencoba merintis usaha di Kampung Sarsang, Distrik Tanah Mring. Saat itu, bersama warga mengembangkan pertanian organic, seperti menanam sayur-sayuran .

“Setelah tiga tahun bersama, akhirnya saya melepas mereka untuk mandiri. Mereka sudah bisa mengembangkan usaha tanam sayur-sayuran serta membuat pupuk organik sendiri. Hingga sekarang, aktivitas tetap berjalan sebagaimana biasa,” ujarnya.

Setelah dari Kampung Sarsang, bruder pindah ke Kampung Wasur. Disana sejumlah kelompok terutama mama-mama Papua, didampingi mengembangkan usaha serupa yakni pertanian organik untuk usaha sayur-sayuran.

“Memang saya masih mendampingi, tetapi tidak rutin karena umumnya mereka sudah mampu menanam beberapa jenis sayur-sayuran serta memproduksi pupuk organik sendiri,” katanya.

Selain di beberapa tempat itu, demikian Bruder, juga di Kampung Nasem. Disana, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Orang Muda Katolik (OMK) digandeng dan dilatih membuka lahan menanam sayur.

Hal lainnya adalah pengembangan usaha  beternak babi, ayam sampai mengembangkan kios. Ini juga merupakan bagian dari program Keuskupan Agung Merauke.

“Kami juga melakukan advokasi kepada orang asli untuk gerakan region Papua yakni tungku Papua. Gerakan ini tidak mengimbau dan mengingatkan kepada masyarakat menjaga tanah dengan baik dan tak menjual kepada orang lain,” ungkapnya.

Dijelaskan, motivasi atau spirit memberi perhatian kepada orang Papua, tidak lain agar kabar suka cita  dapat dirasakan semua orang terutama yang lemah, miskin dan tertindas.  “Jadi, kami ingin memberikan perhatian secara serius,” katanya.

Sebagai rohaniawan Katolik, demikian Bruder, dirinya ingin memfokuskan perhatian melakukan advokasi membela masyarakat. Juga  mendorong mereka  menghasilkan sesuatu dari hasil kerjanya untuk mendapatkan uang.

“Contoh kecil saja seperti usaha sayur-sayuran. Kini masyarakat memiliki uang setiap minggu. Karena bisa menanam dan memanen sayur, sekaligus dijual kepada orang lain,” ungkapnya.

Selama ini, menurutnya, ia membantu juga pemasaran. Karena sudah ada pelanggan tetap di kota yang siap membeli. Umumnya orang senang dengan sayur-sayuran,  karena menggunakan pupuk organik.

Lebih lanjut Bruder Johny mengatakan, dirinya berkomitmen  terus mendampingi orang asli Papua di kampung-kampung. “Saya ingin agar mereka bisa menghasilkan sesuatu yang dapat dijual untuk mendapatkan uang demi menopang hidup keluarga,” ujarnya.

Meskipun perlahan, namun pendampingan melekat dilakukan secara terus menerus. Lalu, butuh keterlibatan bersama mereka secara langsung.

“Kita tidak boleh hanya sekedar bicara, tetapi harus terlibat bekerja secara bersama.  Karena itu menjadi salah satu motivasi untuk masyarakat,” katanya.

Ditanya dukungan dana, Bruder Johny mengaku, selain swadaya,  juga bantuan dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) di Jakarta.  “Dengan modal semangat, kadang masyarakat terus menekuni usaha yang telah dirintis. Itulah menjadi suatu kebanggaan tersendiri,” katanya.

Seorang warga di Kampung Sarsang, Andreas Ndigon mengaku, atas pendampingan Bruder Johny selama tiga tahun, kini mereka sudah mandiri.

“Kami sudah bisa membuat bedeng dan menanam sayur sendiri. Bahkan menghasilkan pupuk organik dari beberapa bahan yang telah diajarkan,” tuturnya.

Andreas mengaku, dengan usaha sayur-sayuran yang digeluti, masyarakat setempat telah memiliki  sumber pendapatan setiap bulan bahkan minggu. “Ya, beberapa jenis sayur yang kami tanam, dipanen dan dijual ke kota,” ungkapnya.

Untuk pemasaran, katanya, tidak sulit mengingat Bruder Johny mempunyai relasi. “Kalau datang musim panen, kami selalu berkomunikasi bersama bruder menghubungi orang-orang yang biasa membeli,” ujarnya.

Yohanes Gunzales, warga lain di Kampung Sarsang mengaku, sudah beberapa kali mereka melakukan pertemuan bersama Bruder Johny Kilok. Dari pertemuan tersebut, telah disepakati untuk nantinya  dibuka lahan agar dikembangkan usaha sayur-sayuran.

“Ya, setelah program sumur bor selesai dan masyarakat bisa menikmati air bersih, ada beberapa kegiatan lain  telah disepakati untuk dilaksanakan,” katanya.

Yohanes mengapresiasi Bruder Johny yang tak henti-hentinya datang di kampung-kampung mendorong masyarakat bekerja dan menghasilkan sesuatu dari tangannya sendiri.

“Bagi kami, bruder telah banyak berbuat bagi masyarakat kurang mampu terutama di kampung-kampung lokal. Dari pendampingan yang dilakukan, mereka sudah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.  (*)

Sumber: TabloidJubi

Saturday, 10 March 2018

Membeli dua rumah dari hasil jualan papeda bungkus

Yakomina Yoku saat melayani pembelih di pasar Pharaa Sentani - Jubi/Yance Wenda

Yakomina Yoku saat melayani pembelih di pasar Pharaa Sentani – Jubi/Yance Wenda

Sentani, Jubi – Papeda bungkus adalah salah satu makan khas Sentani. Papeda bungkus berbahan dasar sagu, dibungkus menggunakan daun-daun pilihan. Papeda bungkus bisa dimakan dengan lauk ikan, daging babi, ulat sagu, atau daging rusa, tergantung selera.

“Saya sudah berjualan dari tahun 1992. Waktu itu jualan di pasar lama sampai pindah ke pasar Pharaa ini saya masih  tetap berjualan papeda bungkus,” kata Margaretha Wally (54 tahun), perempuan asal Sentani kampung Yoboi Kabupaten Jayapura.

Margaretha Wally mengatakan dia menyediakan menu papeda bungkus dengan berbagai pilihan lauk. Tentu saja harganya pun bervariasi.

“Ada macam-macam lauk. Ada ulat sagu, babi, dan ikan. Dulu itu harganya Rp 20 ribu. Kalau daging babi dan ikan gabus itu harganya Rp 30 ribu. Kalo lauknya ikan lohan harganya Rp 25 ribu,”ucannya menjelaskan.

Perempuan 54 tahun ini mengatakan tentu puaslah dengan mengkonsumsi papeda bungkus, dimana lauk dan papeda yang ditaruh bukan sedikit tap banyak seukuran satu porsi makan orang dewasa.

Untuk membuka usaha ‘warung’ papeda bungkus, Margaretha mengaku membutuhkan modal cukup besar.

“Dalam satu bungkus untuk ikan itu ada tujuh ekor ikan goreng yang sudah dimasak saos dan papeda bungkusnya ada lima. Untuk modal yang mama perlukan itu sekitar Rp 2 juta,” ucap Margaretha Wally.

Dalam satu hari ia membuat 100 bungkus. Pembeli papeda bungkus Mama Margareha tidak hanya orang Papua saja tapi dari berbagai kalangan yang datang ingin mencoba papeda bungkusnya.

“Mama biasa bikin 100 bungkus dalam sehari. Kalau pembeli itu orang Papua banyak. Ada juga orang Ambon, Manado, dan Jawa. Perna orang bule datang beli. Kalo pendapatan yang mama dapat itu dalam satu hari Rp 800 ribu saja,” ucapnya.

Mama Margaretha menjelaskan dari hasil berjualan ini ia sudah menghasilkan rumah dan juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan anak-anak yang sedang sekolah.

“Dari hasil ini mama sudah bikin rumah dan sedikit–sedikit mama tambah beli bahan. Dari mama jualan di pasar lama sampai di sini itu mama sudah bikin dua rumah dan juga kebutuhan anak-anak yang sekolah. Terus kebutuhan kita orang Papua itu macam-macam, ada untuk pembayaran mas kawin, macam-macam sudah,” katanya.

Di tempat terpisah, Yakomina Yoku, penjual aneka makanan di pasar Pharaa, mengatakan dirinya menjual beberapa menu selain papeda bungkus.

“Saya jual ada pisang rebus, sayur rebus, dan papeda bungkus. Harganya beda-beda. Kalo papeda bungkus dengan ikan gabus Rp 30 ribu. Ikan merah Rp 20 ribu, sayur pepaya dan bayam Rp 50 ribu, pisang 15 ribu. Pket sayur, pisang, dan ikan Rp 25 ribu,” kata perempuan asal Sentani ini.

Yakomina mengatakan dalam sehari ia bisa menjual 40 papeda bungkus.

“Dalam satu hari itu mama bikin 40 bungkus. Kalo yang datang belanja itu pendatang sama kita punya orang karena mereka bilang makannya punya saos itu enak dan juga tidak menggunakan bahan pengawet,” ucap Yoku.

Yakomina menjelaskan dalam sehari ia bisa mengantongi nilai uang yang cukup lumayan dari hasil jualan papeda bungkus ini. Dari hasil jualan ini, ia gunakan untuk kebutuhan di rumah dan kebutuhan anak-anak.

“Dalam sehari mama bisa dapat Rp 700 ribu. Itu saya pake untuk kebutuhan di rumah dan kebutuhan anak-anak yang sekolah. Mama mulai jualan ini dengan modal Rp 500 ribu saja,” katanya.(*)

Monday, 29 January 2018

Zie Sokoy: Sosok Perempuan Sentani “Entrepreneur” Hebat Masa Kini

Zie Sokoy

Zie Sokoy

Bagi pemuda di Papua, kalau masih muda harus semangat. Kalau masih muda harus kasih banyak bukti ke masyarakat. Kita harus action Bukan hanya asal ngomong. Atau berkoar koar dan mengeluh di sosial media”

Kita punya Sumber Daya Alam yang kaya tapi dukungan Sumber Daya Manusia kurang, kenapa kurang? Karena banyak yang Pintar tapi Pintar ikut-ikutan dan hanya ingin pekerjaan yang aman dan nyaman”

Sebuah pesan singkat yang maknanya dalam bagi para pemuda-pemudi di Papua (termaksud saya) dari seorang perempuan sentani Eldona Vallenzie Sokoy atau yang biasa saya sapa kak Zie.

Kak Zie adalah pemilik Perusahan Vallerie Valley dengan yang fokus pada 2 bisnis utama saat ini (bukan bawa proposal minta proyek di pemerintah yah) yaitu:

  • Coconut Tree Land
  • Coffee and You

COCONUT TREE LAND
Coconut Tree Land bergerak dalam bidang Outlet dan Fashion. Bukan cuma asal jual tas atau baju. Coconut Tree Land mempunyai 3 kampanye utama:

1. Kampanye Kesadaran Sosial (Social Awareness) Lewat barang dagangannya kak Zie menyampaikan pesan – Pesan seperti:

Save our traditional dance in Papua
* Plant a Tree
* Save Hutan Sagu
* No Plastic Bag
* Stop Child Abuse
* Stop Violence Againts Woman and Girls

Tuesday, 9 January 2018

Jayapura bakal lindungi pelaku entrepreneur asli Papua

ejumlah pedagang pinang asli Papua, Jubi/hengky

ejumlah pedagang pinang asli Papua, Jubi/hengky

Jayapura, Jubi Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, berjanji melindungi entrepreneur atau pelaku  usaha asli warga Papua. Perlindungan bagi mereka yang mulai menjual sagu dan pinang hingga tingkat usaha lebih besar.

“Kami fokuskan menempatkan orang asli Papua sesuai dengan skill dan kemampuannya,” kata Tomi Mano kepada wartawan, Senin (8/1/2018).

Ia menyebutkan yang berhak menjual sagu dan pinag di pasar adalah orang asli Papua, mereka bakal menjadi fokus pada pemberdayaan dan kesejahterahan orang asli Papua dalam  segala bidang.

“Untuk itu saya minta kepada semua Organisasi Perangkat daerah untuk harus fokus untuk membina orang asli Papua,” katanya.

Menurut dia selama ini banyak orang Papua yang sukses di segala bidang termasuk tata dekorasi asal Serui, sedangkan dari dunia usaha dikembangkan di hotel dan rumah makan. “Harus orang asli Papau itu tema kerja kita pemberdayaan orang asli apua ini menjadi fokus kita ditahun ini,” katanya.

Tokoh Pemuda Port Numbay Fileph Ireew mengatakan, kebijakan walikota sangat tepat dan membantu orang papua dalam melakoni usaha ekonomi mikro. “Saya sebagai tokoh muda Orang Asli Anak Port Numbay mendukung kebijakan wali kota untuk proteksi orang asli Papua,” katanya.

Ia berharap kebijakan itu tak hanya dilakukan di jayapura, namun juga  di 26 kabupaten mengkuti apa yang dilakukan Wali Kota Jayapura. “Karena itu bentuk proteksi yang daimanahkan Otsus,” katanya. (*)

Friday, 22 December 2017

Petani terpencil ini kesulitan memasarkan hasil dan sarana produksi

Kelompok tani KBG Santo Petrus Pakalu Musatfak saat melakukan penanaman hipere di kampung Muluparek-Jubi/Islami

Kelompok tani KBG Santo Petrus Pakalu Musatfak saat melakukan penanaman hipere di kampung Muluparek-Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Kelompok tani Komunitas Basis Gerejawi (KBG) Santo Petrus Pakalu, kampung Muluparek, distrik Musatfak, Kabupaten Jayawijaya, kesulitan memasarkan hasil.  Kelompok tani yang dibentuk 2015 itu telah menghasilkan berbagai macam tanaman untuk membangun kemandirian pangan di tengah masyarakat.

“Kami kesulitan memasarkan hasil pertanian seperti hipere, pisang, kopi, sayuran dan juga berbagai kayu olahan,” kata Ketua kelompok tani KBG Santo Petrus Pakalu, Manu Pabika, kepada Jubi, Kamis (21/12/2017).

Hambatan pemasaran karena jarak dan transportasi yang jauh dari kampung Muluparek ke Kota Wamena. Ia berharap perhatian pemerintah daerah maupun pemerintahan kampung dan distrik membantu pemasaran dan persoalan yang dihadapi petani.

“Karena selama ini pemerintah seakan abai dengan kelompok tani kami,” kata Pabika menambahkan.

Hambatan lain yang dihadapi kelompok tani juga masih  miskin informasi tentang perkembangan sistem pertanian yang efektif dan profesional, termasuk informasi benih sayuran dan kopi. Mereka hidup di daerah terpencil yang jarang dikunjungi dinas pertanian Jayawijaya.

Penasehat kelompok tani KBG Santo Petrus Pakalu, John Pabika  menyatakan kelompok tani yang dibentuk dan dianimasi oleh Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Asisi Musatfak itu membangun kelompoknya tanpa mengandalkan bantuan pemeirntah.

“Kami swadaya membangun kelompok tani tanpa mengandalkan proposal,”  kata John.

Padahal mereka masih banyak membutuhkan alat pertanian, mesin pengolahan kopi dan sarana produksi pertanian lain.  Menurut dia, selama ini dana desa telah dikucurkan pemerintah pusat yang diperuntukan bagi masyarakat di kampung.

“Namun hal itu tidak berjalan baik, sehingga program pertanian di kampung mereka berjalan apa adanya,” katanya.  (*)

Wednesday, 6 December 2017

Legislator Papua sebut jika mendulang di area PTFI bayar Rp2 juta

Ilustrasi Kampung Banti, salah satu Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua yang selama ini menjadi salah satu area pendulangan - Jubi. Dok

Ilustrasi Kampung Banti, salah satu Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua yang selama ini menjadi salah satu area pendulangan – Jubi. Dok

Jayapura, Jubi – Legislator Papua dari daerah pemilihan Mimika dan kabupaten sekitarnya, Wilhelmus Pigia mengatakan, informasi yang ia peroleh, selama ini setiap warga yang ingin melakukan aktivitas pendulangan di area tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, harus membayar Rp1-RP2 juta.

“Saya dengar dari masyarakat yang naik ke atas (area PT Freeport), mereka bayar Rp1 hingga Rp2 juta. Bayar ke oknum aparat. Bayarnya kayak begitu, seperti itu,” kata Wilhalmus Pigai kepada Jubi, Rabu (6/12/2017).

Mantan anggota DPRD Mimika tiga periode itu mendukung sikap Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar yang melarang warga non-Papua melalukan pendulangan di area penambangan PTFI, dan mengingatkan anggotanya supaya tidak membawa warga non-Papua mendulang ke Distrik Tembagapura.

“Kalau sudah ada pernyataan seperti itu, harus ada tindakan untuk mencegah orang kembali masuk dan melakukan pendulangan di Tembagapura.

Saya pikir aparat tahulah apa tindakan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Katanya, pemerintah kabupaten setempat juga tidak boleh tinggal diam, karena sudah ada sinyal dari kepolisian. Pemkab Mimika harus mendukung apa yang disampaikan kapolda. Selain itu, jika ada oknum aparat keamanan kedapatan membawa orang masuk untuk mendulang, harus ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Daerah pendulangan itu daerah terlarang, persis di mana pembuangan limbah Freeport. Tidak boleh ada aktivitas di situ.
Sejak dulu sudah dilarang masyarakat naik ke situ. Tapi saya heran, ini orang datang, langsung diangkut ke atas, siapa di balik ini?” sampainya.

Katanya, secara kasat mata, PTFI juga memiliki sejumlah peralatan canggih dan tingkat keamanan yang luar biasa, untuk mendeteksi siapa saja yang keluar masuk ke area penambangannya.

“Ini yang harus dioptimalkan lagi. Semua security di sana harus melarang dan memantau orang yang masuk untuk melakukan pendulangan,” katanya.

Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, akan menindak tegas anggotanya yang membawa non-Papua ke daerah pendulangan di area Freeport Indonesia.

Katanya, mungkin selama ini ada oknum anggotanya yang membawa warga non-Papua masuk ke area itu. Namun pasca-berbagai kejadian di Tembagapura belakang ini, tak boleh lagi ada aktivitas penambangan, khususnya oleh warga non-Papua.

“Selama ini ketentuannya memang tak boleh ada aktivitas menambang karena itu ilegal. Anggota saya yang membawa masuk, akan saya tindak tegas. Jangan coba-coba,” kata Boy Rafli pekan lalu. (*)

Sunday, 3 December 2017

Pedagang OAP diharap jadi prioritas di perbatasan RI-PNG

Ilustrasi pelaku ekonomi asli Papua - Jubi/Dok

Ilustrasi pelaku ekonomi asli Papua – Jubi/Dok

Jayapura, Jubi Komisi I DPR Papua, komisi yang membidangi perbatasan, hubungan luar negeri, dan pemerintahan mengingatkan pihak terkait, agar memprioritaskan orang asli Papua (OAP) ketika pembagian kios tempat berjualan di perbatasan RI-Papua Nugini (PNG).

“Mengenai siapa saja yang akan menempati kios di perbatasan, salah satu yang kami bicarakan dengan badan perbatasan. Pedagang non-Papua boleh mendapatkan kios, tapi yang diprioritaskan orang asli Papua,” kata Ketua Komisi I DPR Papua, Ruben Magai usai rapat bersama Badan Perbatasan Provinsi Papua, pekan lalu.

Menurut dia, pihaknya akan membicarakan khusus masalah ini, karena kini ada beberapa organisasi pengusaha asli Papua salah satunya Kamar Ada Pengusaha Papua (KAPP).

“Kini orang asli Papua mulai berpikir tentang bisnis. Jangan orang dari luar datang langsung ke perbatasan menempati kios. Hal ini juga saya sudah bicarakan dengan Kepala Badan Perbatasan Nasional dan Imigrasi,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Papua, Tan Wie Long mengatakan, nantinya, akan diatur secara teknis pembagian kios di perbatasan RI-PNG kepada OAP dan non-Papua. Namun pembinaan untuk OAP harus dilakukan. Tidak hanya diberikan modal dan mereka mengurus usahanya sendiri, tanpa pembinaan.

“Kami bicara lebih pada pembagian kios, karena kami yang membidangi masalah perbatasan. Untuk pembinaan dan hal lain terkait ekonomi, itu ranah Komisi II DPR Papua. Nanti mereka yang mendorong itu,” kata Tan. (*)

Sunday, 15 October 2017

Kemenkop UKM Luncurkan Aplikasi Lamikro untuk Usaha Mikro

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga di acara Celuk Jewellery Festival, Gianyar, Bali, Jumat (13/10/2017).(KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO)

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga di acara Celuk Jewellery Festival, Gianyar, Bali, Jumat (13/10/2017).(KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO)

GIANYAR, KOMPAS.com – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) meluncurkan aplikasi Laporan Akuntansi Usaha Mikro (Lamikro) untuk para pelaku usaha mikro dan yang baru memulai usaha atau wirausaha pemula.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenkop dan UKM Prakoso BS mengatakan, aplikasi Lamikro ditujukan bagi pelaku usaha mikro atau wirausaha pemula agar memiliki laporan keuangan secara baik dan tertib administrasi.

Menurutnya, selama ini pelaku usaha mikro belum memiliki tata kelola administrasi maupun laporan keungan secara baik.

“Sekarang ini wirausaha itu kegagalan utamanya dia tidak bisa menghitung berapa yang dia harus ambil keuntungannya berapa, dan pengeluaran, cash flow (arus kas) dia enggak tahu. Nah, dengan Lamikro bisa jelas,” kata Prokoso kepada Kompas.com saat acara Celuk Jewellery Festival, Gianyar, Bali, Sabtu (14/10/2017).

Selain mendorong pelaku usaha menggunakan aplikasi Lamikro, Kemenkop dan UKM juga tengah berupaya agar pelaku usaha mikro taat administrasi. Salah satunya dengan mendorong pembuatan nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan pembuatan izin usaha mikro kecil (IUMK).

“Kalau tidak kita mulai dari sekarang kapan lagi. Saya alami sendiri usaha-usaha yang mulai tumbuh ketika besar dia hancur karena dia tidak sadar hari ini keuntungan yang dia terima itu harus ada beban untuk mengembangkan bisnis ke depannya,” kata Prakoso.

Prakoso menyebutkan, aplikasi Lamikro sudah dibuat dengan berbagai kemudahan dan fleksibilitas untuk digunakan pelaku usaha mikro.

Lamikro merupakan aplikasi pembukuan akuntansi sederhana untuk usaha mikro yang bisa digunakan melalui smartphone dengan sistem operasi Android.

The post Kemenkop UKM Luncurkan Aplikasi Lamikro untuk Usaha Mikro appeared first on PAPUA.business.

Sunday, 8 October 2017

Kafe Blessing, hadir untuk menginspirasi anak muda Papua

Pelanggan kafe Blessing saat menikmati menu pesanan mereka - Jubi/Yance Wenda

Pelanggan kafe Blessing saat menikmati menu pesanan mereka – Jubi/Yance Wenda

Sentani, Jubi – Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak perlu modal besar, hanya berbekal keyakinan bahwa dia mampu, dimulailah usaha ini. Bermodal gerobak sederhana dan empat pasang meja kursi yang ditata di halaman sebuah rumah toko (ruko), jadilah kafe Blessing sebagai tempat nongkrong anak muda di seputaran Pos VII, Sentani, kabupaten Jayapura.

“Saya yakin, selama ada kemauan, anak muda Papua juga bisa berbisnis, mampu mengelola sebuah usaha. Dengan keyakinan inilah saya buka usaha kecil-kecilan ini. Saya pilih kafe sederhana, tempat nongkrong anak muda. Saya beri nama kafe Blessing agar pengunjung yang datang juga diberkati dengan pelayanan kami,” kata pemilik kafe Blessing, Tresya Kogoya, saat ditemui Jubi di kafenya, Jumat (6/10/2017).

Tresya mengatakan kafe yang terletak di samping pangkalan Pos VII Sentani ini baru dibuka sekitar 1,5 bulan lalu, tapi sudah terlihat mulai ramai pengunjung. Kebanyakan adalah kawula muda.

“Puji Tuhan, kafe berjalan lancar dan tidak ada kendala yang terlalu sulit dilalui. Pengunjung sudah mulai banyak. Kafe buka pukul dua siang sampai 12 malam pada akhir pekan. Hari Senin sampai Jumat hanya buka sampai pukul 11 malam,” kata Tresya, yang masih tercatat sebagai mahasiswi semester 3 jurusan Manajemen di Universitas Cenderawasih Jayapura ini.

Perempuan asal Lanny Jaya ini menjelaskan kafe yang baru dibuka ini memang terlihat belum seramai kafe-kafe di seputaran kota Jayapura yang sudah punya nama. Namun dirinya yakin, kafe yang dikolalanya lambat laun akan berkembang.

“Tempatnya sederhana dan menu yang kami sediakan pun sederhana dengan harga sangat terjangkau. Ada mie telur, Pop Mie, kue coklat, kopi hitam, white coffee, coffee latte, ABC Mocca, Nescafe, teh, susu putih, dan kopi susu. Harga makanan dan minuman disini murah meriah, antara Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu,”  ucap perempuan 20 tahun ini.

Perempuan berdarah tanah Tabi ini mengatakan peralatan yang digunakan di kafenya sebagaian bantuan dari keluarga dan sebagian lagi dari usaha sendiri.

“Kalau rame satu hari bisa dapat Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Kalau pengunjung lagi kurang hanya bisa bawa pulang uang antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Satu minggu rata-rata bisa kumpul uang antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta,” tuturnya.

Tresya bermimpi, selain kafe Blessing yang dikelolanya, satu saat akan muncul kafe-kafe lain atau tempat usaha lain, misalnya Papua Mart – tempat belanja kebutuhan rumah tangga – yang dimiliki dan dikelola anak Papua.

“Saya harap kafe ini bisa berjalan lancar dan keberadaannya dapat menginspirasi dan memotivasi  anak muda Papua untuk berwirausaha dan bukan hanya bermimpi menjadi PNS,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Diton Wonda, seorang pelajar SMA, mengatakan sudah mengetahui keberadaan kafe Blessing.

“Iya, su tahu kalo di Pos VII ada kafe. Yang punya anak asli Papua to. Kalau siang sebelum pengayaan di sekolah, kalau pas ada uang, kita main ke situ. Tapi kalau malam itu paling rame apa,” ucap Diton Wonda. (*)

The post Kafe Blessing, hadir untuk menginspirasi anak muda Papua appeared first on PAPUA.business.

Friday, 6 October 2017

Pemasaran sarang semut asal Jayapura masih manual

Penjual sarang semut ketika mengeringkan sarang semut - (Jubi/Doc)

Penjual sarang semut ketika mengeringkan sarang semut – (Jubi/Doc)

Jayapura, Jubi – Sarang semut asal Kota Jayapura masih dipasarkan secara manual. Salah satu  hasil alam yang diyakini sebagai obat herbal khas Papua itu sebenarnya banyak diminati.

“Jika ada pesanan sarang semut dari luar Kota Jayapura mereka kirim yang belum diolah,” kata Kepala Dinas Perindustrian Dan Koperasi (Disperindakop) Robert L.N Awi, Jum’at (6/10/2017)

Roberth mengaku justru pemerintah ikut memasarkan, jika ada pemesanan dari luar daerah Kota Jayapura atau Papua. “Kami hubungi mama mama Papua yang menjual sarang semut. Kami membeli jualannya dan kirim sesuai dengan permintaan,” kata Robert  menjelaskan.

Ia menceritakan suatu ketika mengikuti kegiatan di Batam pada tahun 2016. Ternyata di sana ia diminta menyediakan sarang semut yang banyak.  Namun tidak dituruti meski harganya mahal karena sarang semut yang diolah tidak banyak.

Selain itu ia mempertimbangkan cara agar sarang semut itu tetap bertahan sebagai produk alam Jayapura. “Jika kami drop dalam jumlahnya terlalu banyak suatu waktu nanti mereka akan mengolahnya dan menjual dengan harga yang mahal kepada kami,” katanya.

Menurut dia sarang semut ini menjadi herbal andalan bagi orang Papua lebih baik diolah sendiri.

Rina Waromi, penjual sarang semut di depan Bank Mandiri Jayapura, mengaku mendapatkan daganganya dari orang lain. Ia menghaluskan dengan mesin kemudian menjual secara kemasan per 1 kilogram. “Satu kemasan ukuran satu kilo saya jual Rp100  ribu,” kata Rina.

Sayangya penjualan yang dilakukan tak banyak. Rina menyebutkan pembeli jarang datang karena  belum banyak yang tahu manfaat obat herbal alami itu. “Kadang sehari tiga bungkus, kadang tak laku,” katanya.

Ia menjelaskan sarang semut asal Kota Jayapura bermanfaat mengobati kanker, paru-paru, dan penyakit  lain. (*)

The post Pemasaran sarang semut asal Jayapura masih manual appeared first on PAPUA.business.

Thursday, 5 October 2017

Pengusaha GEL Papua Akan Diakomodir

JAYAPURA,– Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Papua Djuli Mambaya melakukan pertemuan dengan para pengusaha Golongan Ekonomi Lemah (GEL), Kamis (5/10/17).

Usai Djuli Mambaya mengungkapkan, para pengusaha GEL telah disepakati akan melakukan koordinasi dengan sekretaris Daerah Papua sebagai Ketua  Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) Papua.

“Hasilnya adalah bagaimana kesepatan bersama untuk bersama-sama Pengusaha asli Papua melakukan koordinasi dengan ketua TAPD,” ungkapnya.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut, kata Djuli, juga membahas bagaimana pengusaha GEL Papua ini disiapkan dana dengan harapan mereka dapat mendapatkan pekerjaan.

“Jadi intinya adalah bagaimana mereka disiapkan anggaran khususnya GEL agar mereka semua bisa mendapatkan pekerjaan,” terangnya.

Untuk menindaklanjuti hasil pertemuan, Djuli mengaku akan melakukan pertemuan dengan Sekda Papua.

“Jika masih memungkinkan kalau bisa dalam tahun ini pengusaha GEL yang belum mendapat kegiatan ini dapat diakomodir, sebab ini sudah akhir tahun anggaran 2017,” terangnya.

Ia berharap Ketua TAPD dapat mengakomodir pengusaha GEL tersebut, sebab ini merupakan suatu warning. Dimana kebutuhan untuk GEL harus diperbanyak dengan melalukan penambahan anggaran.

“Kita berharap kedepan GEL ini disiapkan dana yang besar, sebab marwa pengusaha Papua berada di GEL. Karena tidak banyak pengusaha Papua yang besar, dimana pengusaha GEL inilah yang banyak jumlahnya sampai ratusan yang dibina oleh dinas pekerjaan Umum Papua,” kata Djuli Mambaya.

Ia menjelaskan, tahun ini GEL untuk regular pada Bina Marga sebesar Rp 16 miliar dan Cipta Karya sebesar Rp 5 miliar.

“Sekarang tugas kami adalah bagaimana berjuang berkoordinasi dengan ketua TAPD supaya mereka masih bisa mendapatkan porsi anggaran yang ada,” katanya lagi.

Disinggung mengenai jumlah GEL yang belum terakomodir, Djuli Mambaya mengaku, jumlah GEL yang belum terakomodir sebanyak di regular sekitar 200 orang dari total 388 orang pengusaha.

“Tentu kami akan bagi kedalam sub kontraktor, mereka sudah ada yang menghadap ke pengusaha besar dan ada sebagian yang sudah mengakomodir,” terangnya.

Dikatakannya, dengan adanya pengusaha GEL tersebut tentunya  pengusaha besar sebenarnya juga akan terbantu dengan adanya keterlibatan pengusaha GEL. “Secara tidak langsung mereka membina secara langsung pengusaha GEL Papua dengan harapan dikemudian hari mereka bisa belajar dan mendapat pengalaman untuk menjadi pengusaha besar,” tegasnya.

Sementaa itu, Kepala Bidang Cipta Karya, Risliana Panggoa mengatakan, akan berusaha mengakomodir pengusaha GEL untuk masuk dalam sub kontraktor, mengingat ada pekerjaan yang sudah berjalan sampai 80 persen, seperti pembangunan di stadion mandala Jayapura.

“Jadi nanti mungkin nanti ada di pembangunan jalan dan pabrik petatas, nanti kami lihat apakah disitu ada pekerjaan minor yang tidak menggunakan alat. Intinya kami akan membantu mengakomodir kalau memang bisa,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Bina Marga, Yafet Haluk. Ia mengaku, akan memanggil kembali para kontraktor besar untuk evaluasi. “Kami akan memohon kepada mereka apakah bisa titip karena paketnya sudah dimenangkan di ULP,”

Disamping itu, dirinya meminta kepada para pengusaha GEL untuk bersabar dan memberi waktu kepada pihaknya untuk mengurus semua ini. ” akan kami usahakan bicarakan kepada mereka, karena ada sebagian kontrak-kontrak yang belum keluar dan masih di proses, semoga ada pekerjaan yang bisa dibagi ke para pengusaha GEL,”ucapnya.

The post Pengusaha GEL Papua Akan Diakomodir appeared first on PAPUA.business.

Monday, 2 October 2017

Tidak Lagi Izin, Ke Depan UKM Cukup Hanya Mendaftar

Ardan Adhi Chandra – detikFinance
Mentri Koperasi dan UKM, Anak Agung Puspayoga. (KOMPAS.com/SRI LESTARI )

Mentri Koperasi dan UKM, Anak Agung Puspayoga. (KOMPAS.com/SRI LESTARI )

Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM akan mengubah sistem perizinan usaha menjadi tanda daftar bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMK). Tujuannya untuk semakin menyederhanakan sekaligus memudahkan UMK untuk mendirikan usaha.

“Selama ini dikenal perizinan usaha yang dikeluarkan oleh camat, sekarang akan di sederhanakan lagi, tidak izin lagi, cukup dengan daftar,” kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga usai rapat kordinasi di gedung Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (10/3/2016).

Sebelumnya, Kemenkop UKM bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian perdagangab telah membuat aturan yang melimpahkan kewenangan pemberian izin UMK dari bupati/walikota ke camat. Izin diberikan secara gratis dan hanya dalam satu lembar izin.

Namun, untuk mengubah sistem perizinan usaha menjadi pendaftaran, Puspayoga mengatakan, perlu revisi Perpres No. 98 Tahun 2014. Dengan revisi Perpres tersebut pelaku UMK hanya perlu mendaftar untuk membuka usaha yang diharapkan bisa dilakukan secara online.
Puspayoga mengatakan model tanda daftar usaha ini mencontoh kota Bandung yang mampu memangkas waktu perizinan UKM menjadi lebih singkat.

“UU Nomor 98 tahun 2014 yang kemarin isunya itu izin usaha mikro kecil. Pelimpahan kewenangan dari Bupati Wali Kota ke Camat untuk mengeluarkan izin usaha mikro kecil,” jelas Puspayoga.

Ke depannya, perizinan UKM akan disederhanakan lagi. Puspayoga ingin mencontoh kota Bandung yang mampu memangkas waktu perizinan UKM menjadi lebih singkat.

“Sekarang disederhanakan lagi, tidak izin lagi, cukup mendaftar. Contoh kayak di Bandung, dua minggu lalu kita launching sama Pak Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung). Jadi masyarakat tinggal daftar saja. Karena daftar yang keluar bukan izin,” jelas Puspayoga.

Perizinan UKM di Bandung bisa dilakukan secara online, bahkan via smartphone.

“Kalau di Bandung bisa langsung melalui ponsel. Kita harapkan online, kalau belum online kan masih manual, artinya ini adalah suatu upaya dari pemerintah untuk menyederhanakan lagi,” terang Puspayoga.

Sekarang sudah tidak ada lagi perizinan UKM, yang ada hanya pendaftaran yang dapat dilakukan di kecamatan masing-masing.

“Sekarang sudah tidak izin lagi namanya. Cukup tanda daftar, bisa satu jam, bisa satu hari, itu macam-macam, tergantung. Tentunya kalau dengan tanda daftar kita harapkan dengan online juga. Ini nanti akan bisa apakah daftar ke kecamatan atau yang lainnya. Ini nanti teknisnya kan ada tim teknis,” ungkapnya.

Pihaknya juga menegaskan, pendaftaran UKM di kecamatan nantinya memiliki kekuatan hukum yang sama.

“Sama sudah legal cuma tidak ada kata izin lagi,” tegas Puspayoga.

Dirinya juga berjanji bahwa pemangkasan waktu perizinan ini dapat dilakukan secepatnya.

“Secepat-cepatnya, tadi sudah dikoordinasikan,” tutup Puspayoga. (drk/drk)

The post Tidak Lagi Izin, Ke Depan UKM Cukup Hanya Mendaftar appeared first on PAPUA.business.

Thursday, 21 September 2017

Harga pinang buah di pasar Hamadi kembali normal

Mama-mama Papua menjajakan jualan pinang di atas tanah beralaskan kain di pasar Hamadi, Kota Jayapura – Jubi/Abeth You

Mama-mama Papua menjajakan jualan pinang di atas tanah beralaskan kain di pasar Hamadi, Kota Jayapura – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Harga jual pinang buah per kilogram di pasar Hamadi kini harga berada pada kisaran Rp 30 ribu per kilogram. Beberapa sebelumnya, harga pinang sempat turun per kilogram hanya Rp 15 ribu, bahkan pernah sampai angka Rp 10 ribu.

Mama Yulita (63) seorang penjual pi­nang di pasar Hamadi, mengatakan mulai stabilnya harga pinang memicu se­mangatnya untuk menjual pi­nang.

“Satu kilo harganya Rp 30 ribu. Belum ada kanaikan harga. Padahal, proses memanen pinang cukup sulit. Mulai dari me­ngambil dari batang yang tinggi. Proses itu me­ma­kan waktu cukup lama. Sementara harganya kurang ideal,” ujar mama Yulita, kepada Jubi, Kamis (21/9/2017).

Rosa (34), penjual pinang lainnya, juga bersyukur dengan naik­nya harga pinang kendati masih turun naik. Harga jual yang lumayan menambah semangat untuk lebih me­melihara pinang untuk me­nambah pendapatan.

Kata dia, turun naiknya harga pinang sangat tergantung peme­sa­nan serta kualitas dari pinang.

“Jika kualitasnya baik dan super, harga jualnya juga naik,” imbuhnya.

Menurutnya, naik tu­run­nya harga jual buah pinang ini tak bisa diprediksi karena pengepul juga ter­gantung kepada pe­mesan atau permintaan pasar. Jika per­mintaan pasar banyak, harga pinang bisa di­pastikan me­ngikuti kenaikan harga pe­sanan pasar.

“Selain itu, pe­ngaruh hari libur dan hari besar lainnya juga bisa me­mengaruhi harga pasar,” ucapnya. (*)

 

The post Harga pinang buah di pasar Hamadi kembali normal appeared first on PAPUA.business.

Wednesday, 20 September 2017

Disperindagkop kota Jayapura tutup 120 koperasi

Kepala Disperindagkop Kota Jayapura, Robert L.N. Awi - Jubi

Kepala Disperindagkop Kota Jayapura, Robert L.N. Awi – Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Usaha Kecil Menengah Kota Jayapura, Robert L.N. Awi, mengatakan pihaknya telah menutup 120 koperasi dari 360 yang ada di kota Jayapura.

Robert Awi mengatakan data terakhir tercatat di Kota Jayapura ada sekitar 360 koperasi . Dari 360 koperasi itu kurang lebih sekitar 120 koperasi yang atas perintah dari Kementerian Koperasi dan UKM itu harus ditutup.

“Koperasi ini ditutup karena pertama dianggap tidak aktif dalam menjalankan aktivitas koperasi. Kedua, ada laporan rapat anggota tahunan itu sama sekali tidak ada. Ketiga, aktivitas mereka sebagai sebuah koperasi yang berafiliasi dengan dinas Perindagkop di kabupaten/kota itu tidak ada sama sekali sehingga sekitar 120 koperasi di kota Jayapura ditutup,”  kata Robert L. N. Awi, kepada wartawan, di ruang kerjanya, Selasa (19/9/2017).

Lanjut Robert, dari 120 koperasi itu ada sekitar 20 koperasi sudah melakukan klarifikasi kepada Disperindagkop, yang menyatakan bahwa mereka masih ada dan masih beraktivitas. Selama ini mereka tidak menyampaikan laporan bukan karena sengaja tetapi karena alasan-alasan teknis di dalam koperasi itu sendiri.

“Tempo hari mereka datang kasih masuk laporan RAT dua tahun terakhir dan aktivitas koperasinya. Sudah kami tindaklanjuti ke Kementerian pengusulan untuk tidak dibatalkan. Jadi Koperasi di kota Jayapura yang sekarang aktif sekitar 183 koperasi,” katanya.

Sementara itu pengelola koperasi, Etty, mengatakan pendampingan dilakukan tiga bulan sekali.

“Ya, memang benar dinas Perindagkop selalu mendampingi kami untuk mengembangkan koperasi di kampung,” katanya. (*)

The post Disperindagkop kota Jayapura tutup 120 koperasi appeared first on PAPUA.business.

Saturday, 9 September 2017

Konsisten merakit komputer, ’jalan suci’ lelaki Mee menggapai mimpi

Simon Giyai ketika memperbaiki Notebook di kamarnya, Asrama Tunas Harapan - Jubi/Hengky Yeimo

Simon Giyai ketika memperbaiki Notebook di kamarnya, Asrama Tunas Harapan – Jubi/Hengky Yeimo

Japura, Jubi – Merakit komputer bukan pekerjaan mudah untuk dilakoni. Dibutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang untuk menjadi ‘ahli’. Tantangan yang harus hadapi pun tidak sederhana. Tetapi apabila ada kemauan dan niat tulus serta konsiten, pasti ada ‘jalan suci’ untuk sukses menggapai mimpi.

Begitulah jalan panjang dan berliku yang harus dilalui sosok lelaki suku Mee kabupaten Deiyai, Simon Giyai, yang konsisten menekuni profesi sebagai perakit komputer sejak tahun 2011.

Saat ditemui Jubi di Asrama Tunas Harapan, Padang Bulan, Kota Jayapura, Kamis (7/9/2017), Simon mengatakan dirinya mengenal laptop sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 2.

“Setamat SMP saya terpanggil melanjutkan SMA Komputer di Kabupaten Mimika. Saya lulus SMA tahun 2011. Setelah itu saya memilih melanjutkan kuliah di Universitas Sains dan Teknologi (USTJ) Jayapura, jurusan Informatika,” katanya.

Simon menceritakan ketika masih kuliah di USTJ dia ikut kursus merakit komputer selama satu bulan satu minggu di Surabaya. Setelah selesai kursus Simon kembali ke Jayapura dan membuka service komputer yang dia beri nama ‘Bedo’ (Burung) Computer.

Simon mengatakan setelah pulang kursus dari Surabaya ua tidak melanjutkan kuliah di USTJ dengan alasan untuk menekuni service komputer. Ia memilih pulang ke kampung halamannya di Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai.

Tahun 2017, atas desakan orang tuanya Simon melanjutkan kuliah. Kali ini ia memilih kuliah di STIH Umel Mandiri, jurusan Manajemen Komputer.

Simon mengatakan dirinya harus pandai membagi waktu untuk kuliah dan bekerja.

“Saya prioritaskan ketika ada mata kuliah pekerjaan saya tinggalkan. Setelah pulang kuliah apabila ada tugas langsung saya kerakan. Kalau tidak ada tugas kuliah, saya kerja di warnet. Kalau malam saya tidak biasa memperbaiki laptop. Saya biasa perbaiki saat pagi sampai sore,” katanya.

Malam hari dia gunakan waktu untuk belajar materi kuliah atau buku-buku computer.

“Saya biasa tidur jam 1 malam. Kuliah saya harus selesai, tidak boleh berhenti lagi,” katanya.

Simon mengatakan dirinya sudah menemukan talenta untuk merakit komputer. Impiannya adalah satu saat bisa membeli sebuah rumah toko (ruko) dan fokus membesarkan ‘Bedo Computer’ serta menjadikannya tempat untuk membina anak-anak muda Papu di Jayapura.

”Saya juga bisa memperbaiki hardware software, tetapi terkendala pada alat-alat saya kurang. Apabila ada berkat saya akan membeli alat-alat tersebut,” kata Simon.

“Semenjak saya membuka service komputer dari tahun 2011-2017, saya tidak meminta pungutan biaya sepeserpun kepada pemerintah apalagi memasukan proposal. Saya belajar mandiri untuk memperdalam ilmu saja. Nanti kalo sudah lulus baru saya akan buat proposal bantuan,” kata Simon Giyai.

Dikatakannya, semenjak Bedo Computer berdiri sudah banyak mahasiswa dan pemuda yang datang membawa lapotop, notebook, CPU, komputer untuk diperbaiki. Juga teman-teman di Tunas Harapan dan teman kuliah.

“Sejak tahun 2011 buka servis gratis. Sekarang saya sudah membuat tarif harga. Untuk menginstall komputer atau notebook tarifnya sekitar Rp 100 ribu. Kalau ganti Pasta Proccessor taifnya Rp 50 ribu. Bersihkan Fan/Motherboard Rp 100 ribu. Untuk Laptop yang mati menyala atau layar gelap putih berwarna tarifnya Rp 250 ribu,” kata Simon Giyai.

Sahabat sekamarnya, Ones Ukago, membenarkan bahasa sahabatnya yang selalu menekuni dunia komputer ini.

“Sudah lama sahabat Simon Giyai memperbaiki computer. Itu memang keahliannya. Di kamar banyak komputer yang rusak kalau siang dia jarang keluar dia memperbaiki notebook atau laptop yang ada. Saya bangga karena dari sekian banyak anak Papua, dia cukup ulet dalam melakoni dunia computer. Sampai komputer rusak pun dia bisa hidupkan kembali,” katanya sambil tertawa. (*)

The post Konsisten merakit komputer, ’jalan suci’ lelaki Mee menggapai mimpi appeared first on PAPUA.business.