Search This Blog

Showing posts with label 2017 at 06:36PM. Show all posts
Showing posts with label 2017 at 06:36PM. Show all posts

Saturday, 9 September 2017

Roberth: masyarakat biasakan konsumsi pangan lokal

Seorang pemuda saat membeli pangan lokal (sagu) dari mama yang berjualan di pasar - Dok Jubi

Seorang pemuda saat membeli pangan lokal (sagu) dari mama yang berjualan di pasar – Dok Jubi

Jayapura, Jubi Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Koordinasi Penyuluh Provinsi Papua, Roberth Eddy Purwoko, mengatakan sudah saatnya masyarakat Papua mengonsumsi pangan lokal sebagai kebutuhan sehari-hari.

“Kami akan meningkatkan pengembangan pangan lokal mulai dari skala rumah seperti pemanfaatan pekarangan, dengan tujuan bisa menyediakan pangan secara baik dan berkelanjutan,” kata Roberth, di Jayapura, Jumat (8/9/2017).

Ia tekankan, pihaknya akan terus berupaya menghapus ketergantungan masyarakat atas produksi pangan dari luar Papua.

“Tentu dengan tersedianya pangan lokal akan mengurangi ketergantungan terhadap kebutuhan pangan dari luar. Sebab secara global ada tiga hal yang diperebutkan negara-negara yakni pangan, energi dan air,” ujarnya.

Saat ditanya soal ketersediaan pangan di Papua, Roberth menjelaskan, saat ini masih bergantungan dari luar Papua seperti beras dan bahan pokok lain yang didatangkan dari Pulau Jawa.

“Kami dari dinas akan menyediakan pangan secara lokal seperti beras lokal dan sagu yang telah diolah, sehingga ketergantungan perlahan kami kurangi dan bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri,” ucapnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua, Elia Loupatty, menilai dengan semakin beragamnya keanekaragaman harus bisa dirasakan sebagai peluang untuk meningkatkan ketersediaan pangan di Papua.

Disamping itu, keanekaragaman pangan juga tidak harus memanfaatkan perkebunan luas, namun hanya dengan memanfaatkan pekarangan rumah, bisa untuk menanam pangan lokal yang menjadi kebutuhan dasar.

“Ini penting bagaimana kita memaksimalkan pekarangan sekaligus meningkatkan pangan lokal, dengan begitu akan menjadi terbiasa,” kata Elia. (*)

The post Roberth: masyarakat biasakan konsumsi pangan lokal appeared first on PAPUA.business.

Saturday, 24 June 2017

Nasib Merana Pegawai Hingga Tukang Parkir 7-Eleven Jelang Kebangkrutan

Di kantor perusahaan induknya, gerai 7-Eleven tutup mulai besok.

Gerai 7-Eleven Blok M, Jakarta Selatan

Gerai 7-Eleven Blok M, Jakarta Selatan

PT Modern Internasional Tbk telah mengumumkan rencana penutupan gerai 7-Eleven per 30 Juni 2017 mendatang. Namun, saat ini pun telah banyak gerai 7-Eleven yang berhenti beroperasi. Salah satu yang masih buka adalah gerainya yang berada di Matraman, Jakarta Pusat.

Gerai ini cukup spesial karena berada tepat di depan kantor pusat perusahaan induknya, yakni PT Modern Internasional. Saat Katadata ke sana, Jumat (23/6) siang, kondisinya benar-benar sepi. Tak ada pengunjung lain di sana, hanya ada dua orang pegawai di meja kasir dan seorang manajer mengawasinya.

Ini adalah hari kerja terakhir mereka. “Besok sudah tutup,” kata seorang pegawai itu.

Tak banyak lagi yang bisa dibeli di gerai itu. Dari 7 lemari pendingin yang ada, hanya 2 yang masih berfungsi. Beberapa minuman bersoda dan varian teh ada di sana. Salah satu minuman andalan 7-Eleven, Big Gulp, juga tidak lagi tersedia. Deretan rak yang biasanya memuat berbagai jenis makanan ringan sudah kosong. Rokok pun tak ada.

Sementara orang lain sedang sibuk menyiapkan Lebaran di kampung halaman, pegawai ini pusing memikirkan masa depan. Ia belum mendapatkan pekerjaan pengganti. “Belum tahu,” ujarnya. Sang manajer melarangnya bicara banyak pada pengunjung.

Gerai 7-Eleven di Pinang Ranti telah tutup lebih dulu, dua hari lalu. “Sudah bangkrut,” kata Kodir, tukang parkir di sana. Meski tak bekerja langsung sebagai pegawainya, Kodir pernah turut menikmati masa jaya 7-Eleven.

Dua-tiga tahun lalu, saat 7-Eleven ramai penunjung, ia bisa mendapat upah parkir hingga Rp 100 ribu sehari. Sejak Maret 2017 lalu, menurutnya pengunjung sudah jauh berkurang. “Paling dapat Rp 20 ribu sehari,” katanya. Ia makin pusing memikirkan nasibnya kini, setelah gerai itu tak buka lagi.

Corporate Secretary PT Modern Putra Indonesia, Tina Novita menyebut penjualan 7-Eleven mulai merosot saat pemerintah melarang minimarket menjual bir pada 16 April 2015 lalu. Larangan itu tertuang dalam Peraturan menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

“Saat minuman beralkohol itu dilarang, penjualannya berkurang. Lalu orang-orang yang membeli snack seperti kacang-kacangan menurun,” katanya.

Namun, itu bukan penyebab tunggal kejatuhan 7-Eleven. Marketing ManagerAT&T Mahdi Rinaldi menyebut 7-Eleven di Indonesia memang tidak efisien. Menurutnya, konsep 7-Eleven di Indonesia berbeda dengan yang ada di Malaysia, Singapura, Hongkong, Filipina, bahkan di negara asalnya, Jepang.

“Di luar (negeri), 7-Eleven itu seperti warung biasa saja, kadang tidak menggunakan pendingin ruangan, nyempil di sela toko lain dan tanpa meja kursi,” ujarnya.

Dengan kondisi minimalis itu, mereka fokus menjual produk dan makanan dari kulkas, pelanggan yang berbelanja pun tak perlu nongkrong belama-lama. Sementara di Jakarta, 7-Eleven umumnya menempati bangunan yang cukup besar, bahkan dua lantai yang terang-benderang, lengkap dengan pendingin ruangan, hingga jaringan Wifi.

“Itu semuanya cost, cost dan cost yang musti dibebankan ke harga produk hingga menjadi mahal biaya produksinya,” katanya.

Michael Reily