Whois/Lookup

Search This Blog

Wednesday, 12 July 2017

Stan pinang dan kopi dibangun di luar pasar Pharaa

Sentani, Jubi – Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Jayapura melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Pharaa Sentani, Daniel Sokoy mengatakan, jumlah pedagang pinang dan penjual kopi cukup banyak sehingga akan dibangun tempat di samping pasar.

“Jumlah mereka saat ini dalam data kita mencapai 200-an pedagang. Tidak mungkin kita melarang mereka untuk berjualan di sini,” katanya di Sentani, Rabu (12/7/2017).

Menurutnya, bangunan semi permanen di luar pasar merupakan swadaya pedagang. Pihaknya akan menyediakan bangunan baru jika lokasinya cocok.

“Tempat di dalam pasar ini sudah kami petak-petakan dengan bahan yang akan dijual pedagang, sementara untuk bangunannya belum seluruhnya dibangun,” katanya.

Lima bangunan permanen ini, lanjutnya, tidak digabung dengan penjual pinang. Apalagi mereka yang menyediakan kopi, teh dan bahan makanan.

“Tetapi masih ada yang menjual sayur-mayur di tempat yang disediakan untuk pedagang pinang. Oleh sebab itu, untuk sementara waktu kita berikan ruang dulu bagi mereka,” katanya.

Pemilik kedai kopi, Sunarti mengaku mendapatkan tempat jualan di belakang pasar. Lokasinya berdekatan dengan penjualan ikan dan daging.

“Ya, namanya semua pedagang ingin barangnya laku. Masa kita mau jualan barang makanan dan minum dekat dengan penjual daging dan ikan?” katanya. (*)

Monday, 10 July 2017

Komoditi Ekspor akan Jadi Perhatian Serius Pemprov Papua Barat

Manokwari, TP – Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan mengungkapkan Komoditi ekspor yang ada di Papua Barat, kedepan akan menjadi perhatian serius pihaknya.

“Ini menjadi program prioritas kita kedepan, berdasarkan potensi pertanian yang ada di Papua Barat ini,” ungkap Dominggus, kepada Wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, Senin (3/7).

Lanjut dia, salah satu contoh komoditi ekspor yang dimiliki Papua Barat adalah seperti buah Pala dan kelapa yang dapat diolah untuk peningkatan ekonomi rakyat.
Dikatakan Dominggus, dirinya sudah menyampaikan hal itu kepada Menteri Pertanian saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sorong beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Menteri Pertanian akan mendorong hal itu sekaligus memberikan dukungan kepada pemerintah Papua Barat untuk mempersiapkan lahan komoditi ekspor.
Ia menegaskan, dalam waktu dekat dirinya akan memanggil para Bupati dan Walikota untuk membahas potensi pertanian dan komoditi ekspor yang ada di masing-masing daerah.

Khusus untuk Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), dikatakan Dominggus, kedepan akan menjadi target utama pemberdayaan pertanian untuk menghasilkan sayur mayur segar, guna memenuhi kebutuhan pasar.

“Yang paling penting adalah Komitmen kita, karena Pemerintah pusat kan sudah siap untuk membantu,” tukasnya. [BOM]

Saturday, 8 July 2017

Fakta Unik Soal Jeff Bezos Yang Perlu Anda Tahu

AyoPreneur – Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon, telah menjadi subjek berita utama di seluruh dunia baru-baru ini, baik di berita tentang keberhasilan dirinya memimpin Amazon menuju masa keemasan, maupun berita yang mengkritik tajam budaya kerja yang dia buat di Amazon.

Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon

Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon

Namun, pada saat yang sama, banyak orang yang juga mengagumi kecerdikannya dan layanan pelanggan berkualitas tinggi yang disajikan Amazon, serta dedikasi Bezos kepada anak-anaknya dan istrinya, MacKenzie.

Apakah pencapaiannya lebih besar daripada kritik terhadapnya? Berikut ini 5 (lima) fakta yang perlu diketahui tentang CEO Amazon, seperti dikutip dari Heavy.

1. Bermula dari Garasi Kecil

Pada usia 31 tahun, Bezos memulai Amazon dari sebuah garasi kecil di Bellevue, Seattle dengan bantuan istri dan satu orang karyawan, Shel Kaphan. Awalnya dia menamai bisnisnya “Cadabra,” tetapi ketika seorang pengacara salah mendengar nama itu menjadi “Cadaver” yang berarti “bangkai”, dan kemudian ia memutuskan untuk mengubahnya menjadi Amazon.

Ia memilih Amazon karena berharap gagasan Amazon sebagai sungai terbesar di dunia itu mencerminkan perusahaannya yang suatu hari akan tumbuh menjadi penjual buku terbesar di dunia.

2. Keluarga

Bezos saat ini masih ada dalam ikatan pernikahan dengan wanita yang sama, ketika ia merintis Amazon. Wanita itu bernama MacKenzie Bezos. Bersama-sama, mereka memiliki empat orang anak: tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak gadis yang diadopsi dari Tiongkok.

Mereka menikmati kegiatan keluarga pada umumnya, seperti pergi untuk melihat film Mission Impossible 5. Uniknya, MacKenzie juga menulis novel dan Jeff akan menghabiskan sepanjang hari untuk membaca naskahnya, sekaligus menawarkan ide-ide dan pikirannya.

Bezos sebenarnya adalah nama keluarga dari orangtua adopsinya, Miguel Bezos, seorang engineer perminyakan di Exxon, dan Jackie Bezos. Jeff diadopsi oleh mereka saat berusia empat tahun. Ayah biologis Jeff, Ted Jorgensen, berusia 19 tahun saat Jeff lahir dan meninggalkannya saat Jeff berusia 3 tahun.

Jorgensen memiliki toko sepeda di Glendale, Arizona. Sebelumnya, Ted telah mengizinkan Jackie dan Miguel untuk mengadopsi Jeff dan dari waktu ke waktu, Ted lupa nama belakang Jeff yang baru. Ketika Ted mengetahui bahwa Jeff Bezos adalah putranya, ia bahkan tidak tahu apa itu Amazon karena ia tidak menggunakan komputer.

3. Terus Berinovasi

Sosok yang inovatif dan pandai melihat peluang, mungkin layak disematkan kepada Jeff Bezos. Bagaiamana tidak, Amazon Inggris baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan trio Top Gear: Jeremy Clarkson, Richard Hammond, dan James May. Ketiganya menjadi tuan rumah pameran mobil di gelaran Amazon Prime 2016. Baginya, kemitraan adalah hal yang menggembirakan.

Bezos juga percaya bahwa pesawat tak berawak (drone) suatu hari akan menjadi hal umum, seperti halnya kita melihat sebuah truk pengangkut surat.

Perlu diingat, Jeff tidak hanya berinovasi melalui Amazon karena Jeff juga memiliki perusahaan luar angkasa bernama Blue Origin. Perusahaan ini meluncurkan roket pertamanya di tahun ini dan sudah mendaftar untuk penerbangan antariksa.

4. Orang Terkaya ke-15 di Dunia

Menurut Forbes, Jeff merupakan orang terkaya ke-15 di dunia, dengan nilai kekayaan sebesar US$ 47,2 juta pada usia 51 tahun. Sementara di jajaran perusahaan teknologi, ia merupakan orang terkaya ke-3, setelah Bill Gates dan Larry Ellison.

Sejumlah properti miliknya, antara lain properti di depan danau di Seattle, peternakan jagung di West Texas, area seluas tiga blok di Seattle, apartemen Century Tower di Manhattan, properti Medina di Washington, dan rumah senilai US$ 24,5 juta di Beverly Hills.

5. Budaya Kerja yang Dibuatnya Mengundang Kritik

Baru-baru ini Amazon mendapat banyak kritik tajam terkait budaya kerja. Dalam sebuah surat kepada pemegang saham pada 1997, Jeff menulis, “Anda dapat bekerja dalam waktu lama, bekerja keras, atau bekerja secara cerdas, tetapi di Amazon.com Anda tidak dapat memilih dua dari ketiganya.”

Potongan pada kalimat di surat tersebut jelas menyatakan bahwa budaya kerja di perusahaan yang didirikan pada 5 Juli 1994 ini memang keras. Pada 2011, di luar gudang Amazon ditemukan ambulans yang menunggu untuk mengangkut karyawan Amazon yang meninggal karena bekerja di ruangan bersuhu sangat panas.

Kemudian, Amazon juga dikenal dengan pergantian pekerjanya yang tinggi. Sejumlah karyawan diberikan 50 sampai 60 halaman yang berisi data dan hanya beberapa hari kemudian mereka akan ditanyai tentang ribuan angka dari data tersebut. Karena itu, banyak karyawan menjalani hari mereka tanpa tidur supaya bisa mengerjakannya.

Di samping itu, sebuah alat umpan balik (feedback) memungkinkan para karyawan di Amazon untuk berkompetisi dan melihat peringkat satu sama lain. Imbasnya, mereka yang ada di peringkat terendah setiap tahunnya tidak lagi bekerja di Amazon.

Hal ini menciptakan tensi kompetisi yang serius dan `gila`. Selain itu, hal yang juga patut disayangkan dari Amazon, para karyawan melaporkan bahwa mereka tidak memiliki kelonggaran apapun, jika kerabat atau mereka sendiri menderita penyakit serius, meskipun kinerja mereka sangat kuat. (bn)

Friday, 7 July 2017

Pengusaha Asli Papua Siap Terima 400 Paket Pekerjaan di Dinas PU

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) –Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ProvinsiPapua bakal menyiapkan 400 paket pekerjaan Golongan Ekonomi Lemah (GEL) bagi pengusaha Orang Asli Papua (OAP).

Paket penunjukan langsung tersebut senilai Rp. 1 miliar untuk pekerjaan di wilayah pegunungan dan Rp. 500 juta untuk wilayah pesisir.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Papua Djuli Mambaya, paket GEL tersebut merupakan tindaklanjutatas instruksi Gubernur Lukas Enembe untuk memberdayakan pengusaha lokal di tanah ini.

“Kemarin dari 600-an pengusaha OAP yang mendaftar kita sudah seleksi sekitar 400 yang memenuhi persyaratan. Sehingga sekitar 400 pengusaha lokal ini akan kita berikan pekerjaan, namun dengan catatan tak boleh ada pinjam-meminjam perusahaan atau mengatasnamakan pengusaha OAP”.

“Intinya pengusaha yang akan mendapat pekerjaan adalah perusahaan dengan direktur terdaftar sebagai orang asli Papua. Tak boleh ada pinjam-meminjam perusahaan lagi seperti yang lalu-lalu dan tahun ini mulai akan saya tegakkan aturan itu,” terang dia kepada pers, Selasa (4/6/2017) di Jayapura.

Dikatakan Djuli, pemberdayaan bagi pengusaha asli Papua harus benar-benar diimplementasikan sedini mungkin. Karena jika diberi kesempatan, dirinya yakin para pengusaha lokal ini akan mampu unggul dan memiliki daya saing.

“Saya percaya pengusaha asli Papua bisa menjadi pengusaha yang memiliki daya saing kedepan. Dan selaku kepala dinas saya akan bina mereka. Tentunya untuk pekerjaan awal seperti, pemeliharaan jalan, saluran maupun pembangunan bahu jalan,” katanya.

“Tapi intinya saya harap mereka mengerjakan suatu kegiatan secara gotong royong yang bisa memberi dampak pada perekonomian masyarakat banyak. Supaya banyak pihak yang ekonominya membaik,” harapnya .

Sekedar diketahui, untuk tahun ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Papua menganggarkan dana senilai Rp16 miliar untuk paket pekerjaan GEL. Meski begitu, Kadis Djuli Mambaya memberi sinyalemen untuk menambah anggaran paket GEL untuk tahun ini, ke dalam pengusulan APBD Perubahan. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

Pengusaha asli Malind dan Papua keluarkan 9 pernyataan sikap

Sejumlah pengusaha Marind dan Papua foto bersama usai beri keterangan pers – Jubi/Frans L Kobun

Sejumlah pengusaha Marind dan Papua foto bersama usai beri keterangan pers – Jubi/Frans L Kobun

Merauke, Jubi Pengusaha asli Malind dan Papua mengeluarkan sembilan pernyataan sikap, terkait Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

Dalam pasal 62 ayat 2 dijelaskan, orang asli Papua berhak memperoleh kesempatan dan diutamakan untuk mendapatkan pekerjaan dalam semua bidang pekerjaan di wilayah Provinsi Papua berdasarkan pendidikan dan keahliannya.

Demikian pernyataan sikap 16 pengusaha asli Malind dan Papua yang dibacakan oleh Joseph Albin Gebze di sekretariat Kantor Kadin Merauke Kamis (6/7/2017). Dikatakan, untuk mengembalikan hak kesulungan orang asli Malind dan Papua di Kabupaten Merauke, sejumlah tuntutan yang disampaikan harus diakomodir.

Beberapa tuntutan dimaksud, di antaranya, agar dalam anggaran perubahan APBD 2017, 100 persen realisasi pekerjaan diberikan kepada pengusaha asli Malind dan Papua.

Selain itu, meminta dengan tegas kepada Presiden RI, Gubernur Papua serta Bupati Merauke mengambil langkah tegas bagi pemberdayaan pengusaha Malind dan Papua. Sekaligus mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, membuat dan menetapkan serta menertibkan Peraturan Daerah (Perda) keberpihakan kepada pengusaha asli.

Hal lain yang disampaikan, tender paket proyek konstruksi serta barang dan jasa di lingkungan Pemkab Merauke, harus memprioritaskan pengusaha asli Malind. Jika paket pekerjaan di atas Rp5 miliar, diwajibkan KSO bersama pengusaha asli Malind dan Papua.

“Kami juga minta pengurusan surat-surat dalam rangka company-profile perusahaan orang Marind, diberikan prioritas pelayanan serta akses. Juga meminta lembaga keuangan dalam hal ini perbankan memberi pelayanan maupun kemudahan dalam memperoleh pendanaan,” pinta mereka.

Pengusaha asli Malind lainnya, Thimoteus Mahuze meminta perusahaan yang menggunakan identitas nama Malind, tetapi direktur atau direktrisnya bukan orang Marind agar diberikan teguran.

Sementara Ketua Kadin Kabupaten Merauke, Vincencius Y Gebze menambahkan,  sebagai tindaklanjut dari sejumlah pernyataan ini, pengusaha asli akan membangun komunikasi bersama Bupati Merauke, Frederikus Gebze sekaligus dilakukan audiens bersama.

“Kami akan menghantar langsung surat ini kepada Gubernur Papua serta Presiden RI dalam waktu dekat,” ujarnya. (*)

Wednesday, 5 July 2017

Buku khas Papua di Ondewerek Cafe and Shop

Karyawan toko buku Ondewerek, Ismael Kilungga menunjukkan buku kepada pengunjung – Jubi/ Yance Wenda.

Karyawan toko buku Ondewerek, Ismael Kilungga menunjukkan buku kepada pengunjung – Jubi/ Yance Wenda.

Sentani, Jubi Sejak berdiri, toko buku Ondewerek Cafe and Shop di Sentani yang dikelola putra-putri Papua, mulai terlihat peningkatan pengunjung yang datang untuk melihat-lihat, belanja buku, atau bersantai menikmati kopi dan teh hangat.

Deliyanti Kilungga, perempuan kelahiran Jayapura 1986 dan manajer Ondewerek mengatakan, toko bukunya menghadirkan buku-buku khusus Papua. Di antaranya buku-buku baru seperti cerita alkitab dan cerita lain versi bahasa Papua dan Melayu.

“Kami fokus pada buku-buku Papua selain buku dari Gramedia, Karisma, dan penerbit lain yang mau titip di sini, kami juga menjual buku-buku tentang Papua dari sejumlah penulis yang menitip untuk dijual,” katanya kepada Jubi, Rabu (5/7/2017).

Deliyanti mengatakan, hadirnya Ondewerek bertujuan meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa dan pelajar Papua.

“Daripada mereka duduk habiskan waktu nongkrong di cafe cuma duduk saja, mendingan mereka datang baca buku free dan menikmati free wifi dan juga ada kopi,” kata mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan ini.

Sejauh ini, katanya, peminat Ondewerek paling banyak perempuan. Ini sesuai harapannya. Sebab perempuan mulai bangkit membaca

“Itu akan jauh lebih baik,” ujarnya.

Mengelola sebuah toko buku di era online ini tentu saja memiliki tantangan sendiri. Namun perempuan asal Piramit ini mengaku tidak putus asa dan patah semangat demi meningkatkan minat baca di Papua.

Kini ia sedang berusaha melakukan promosi. Sebab kehadiran tokonya tidak hanya untuk mendapatkan buku yang sekarang gampang di-download, tapi memotivasi generasi muda Papua untuk rajin membaca. Sebab tidak semua buku ada di internet.

Pegawai Ondewerek, Asmael Kilungga mengatakan, pengunjung tokonya tak hanya orang Papua, tapi juga pendatang. Pengunjung biasanya ramai sore dan malam. (*)

Monday, 3 July 2017

Produk PNG di perbatasan Indonesia diminati pengunjung

Jayapura, Jubi Cenderamata khas buatan orang Papua Nugini (PNG) di Wutung, Vanimo, Provinsi Sandaun paling diminati pengunjung.

Tampak di lapak-lapak atau stan penjual para pengunjung menawarkan oleh-oleh bermotif ukiran dan bendera PNG, seperti cangkir, gelang, kain dan kalung.

Salah seorang penjual, Prisila Anti mengaku sedikitnya 500-an pengunjung singgah pada lapaknya, terutama pengunjung dari Jayapura, Indonesia. Harga penjualan oleh-oleh buatannya pun bervariasi.

“PNG cup (cangkir PNG) dijual 50 ribu rupiah per buah, payung 80 rupiah atau 15 kina per buah,” kata perempuan asal Kampung Wutung, Provinsi Sandaun ini ketika diwawancarai Jubi di Wutung, Minggu (2/7/2017).

Menurutnya produk-produk PNG paling diminati wisatawan di perbatasan PNG – Indonesia meski orang PNG sendiri tak tertarik membelinya.

“Mereka (pengunjung Indonesia) menyukai produk PNG,” katanya.

Meski demikian, ia enggan menyebutkan hasil penjualan saban harinya. Dirinya hanya mengakui banyak pembeli, terutama jika hari-hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

Perbatasan RI-PNG di Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami ditempuh sekira dua jam lamanya dari Kota Jayapura, Papua. Ratusan pengunjung berdesakan melintas batas untuk menikmati panorama lautan Pasifik dan perkampungan warga di Wutung. Tak lupa juga mereka berfoto ria dengan latar perbatasan, bendera PNG, souvenir dan tentara penjaga PNG penjaga perbatasan.

Salah seorang pengunjung asal Jayapura, Arnoldus Yansen Magut mengatakan, dirinya baru pertama kali ke perbatasan yang baru diresmikan Presiden RI Joko Widodo bulan lalu ini.

Ia mengaku tertarik dengan panorama dan alam PNG bagian barat atau ujung timur tanah Papua ini.

Amazing. Orang-orangnya juga baik dan ramah pada tiap pengunjung,” kata Arnoldus.

Menurut pria yang pernah menjadi tour guide ini, daerah perbatasan RI-PNG hendaknya dikelola baik oleh pemerintah setempat. Produk-produk lokal pun bisa dijual di kawasan perbatasan seperti noken Papua, ukiran dan produk-produk lainnya yang dihasilkan masyarakat serumpun yang dipisahkan dua negara ini.

Sementara pengunjung lainnya, Rosario Banera mengatakan, setelah  diresmikan Presiden Jokowi, kawasan ini ramai dikunjungi warga untuk menghabiskan masa liburan. Sebelumnya, kata dia, pengunjung di kawasan Skouw-Wutung bisa dihitung dengan jari.

“Saya yakin ke depan di perbatasan ini banyak pengunjung. Perlahan-lahan warga Jayapura dan sekitarnya lebih memilih libur akhir pekan di sini daripada di Pantai Base G, Holtekam, Hamadi dan Tablanusu, jika pemerintah dan masyarakat mengelolanya dengan baik,” kata Banera. (*)

Sunday, 2 July 2017

Kredit Macet Bank Papua Mengalir ke Tol Cipali

Kredit Macet Bank Papua Mengalir ke Tol Cipali

Ilustrasi Bank Papua. (FOTO: MI/Safir Makki)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kredit macet yang terjadi di Bank Papua ternyata tidak dipergunakan untuk membiayai proyek yang berada di tanah Papua. Pemberian kredit pun tidak hanya dilakukan di Papua, tapi juga di Jakarta.

Dua debitur besar Bank Papua yang kreditnya macet, yakni PT Bahtera Sarana Irja (BSI) dan PT Vita Samudera (Vitas), mengajukan kredit ke Bank Papua untuk membiayai proyek di Jawa Timur dan Jawa Barat. PT BSI mengajukan pinjaman untuk pengerjaan proyek perkapalan di Surabaya, Jawa Timur.

Sementara itu, PT Vitas mengajukan permintaan pembiayaan untuk menggarap proyek Tol Cikampek-Palimanan (Cipali). PT BSI mendapat plafon kredit sebesar Rp313 miliar dan PT Vitas Rp111 milar. Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), ditemukan potensi kerugian negara sebesar Rp359 miliar.

Terungkapnya kasus kredit macet di Bank Papua tidak lepas dari temuan bagian pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bagian pengawasan OJK melihat ada potensi pelanggaran prosedur dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit di Bank Papua. Temuan itu kemudian ditindaklanjuti ke bagian penyidikan OJK.

“Dari hasil penyidikan memang ditemukan pelanggaran prosedur dalam penyaluran kredit sehingga kredit kedua debitur itu macet,” jelas Deputi Komisioner Manajemen Strategis 1C OJK Hendrikus Ivo kepada Media Indonesia, Jumat 30 Juni 2017.

Ivo menegaskan bisa saja proyek yang dijalankan tidak bermasalah. Namun, karena prosedurnya bermasalah dan tidak prudent, pembayaran kreditnya pun jadi bermasalah dan akhirnya macet. Atas temuan itu, OJK membawa kasus itu kepada Kejaksaan Agung.

Kejaksaan menilai ada unsur tindak pidana korupsi dalam pemberian kredit itu dan mengarahkan agar dilimpahkan ke Bareskrim Polri. OJK kemudian bersama Bareskrim Mabes Polri menyidik kasus itu dan meminta BPK untuk menghitung kerugian negara.

Saat ini aset milik kedua perusahaan itu sudah disita dan siap dilelang.

Minta dituntaskan

Gubernur Papua Lukas Enembe meminta Direksi Bank Papua mengambil langkah cepat dan tepat mengatasi persoalan kredit macet yang melilit bank daerah milik masyarakat Papua itu.

Gubernur Lukas mengaku tidak kaget dan mengajak masyarakat agar tidak panik, apalagi sampai melakukan penarikan uang dari Bank Papua.

“Kita tidak kaget dan panik, Bank Papua ini memang sudah rusak dari dulu. Dari gubernur ke gubernur orang tidak lihat itu. Makanya saya rombak semua direksi, lalu saya ambil dari BNI, Mandiri, BCA. Mudah-mudahan mereka segera mengatasi persoalan ini,” ujar Gubernur Lukas ketika menjawab pertanyaan Media Indonesia di Jayapura, akhir pekan lalu.

Menurut Gubernur, salah satu penyebab terjadinya kredit macet di Bank Papua hingga merugikan daerah ratusan miliar ialah kebijakan direksi yang lalu dalam memberikan kredit tanpa melalui proses dan dokumen persyaratan perbankan yang benar.

“Bagaimana tidak macet? Baru 50 persen persyaratan kredit yang diajukan, dananya sudah cair,” tandasnya.

Dirinya meminta F Zendrato selaku Direktur Utama Bank Papua dan jajaran belajar dari persoalan dan mencari langkah tepat menyelamatkan Bank Papua dan menjaga kepercayaan nasabah. (Media Indonesia)

(AHL)

Produk olahan rumput laut Sarawandori butuh dorongan

Jayapura, Jubi – Ross Wondiwoi, ketua Kelompok 2 Wamayakawa mengungkapkan,  produk makanan olahan tradisional dari rumput laut yang berasal dari kelompoknya yaitu stick, mie, dodol, agar-agar, bakso, dan manisan masih terkendala dengan pemasaran dan uluran bantuan permodalan.

“Diakui kami masih terbentur dengan pemasaran yang masih jauh dari kata mencukupi, setiap minggu kami hanya berproduksi 20 kg dengan bahan baku yang cukup mahal, didapatkan dengan harga Rp30 ribu per kg rumput laut, ” ujarnya.

Meski begitu, usaha yang didirikannya bersama 10 anggota dapat berjalan secara tradisional dengan banyak produknya dibawa ke Jakarta, Aceh, bahkan Belanda.

“Kita masih butuh tempat kerja bagi anggota, ini sangat penting,” ujarnya.

Ia berharap agar ada uluran bantuan dari pemerintah atau pihak swasta, dalam hal ini perbankan untuk bisa membantu kelancaran permodalan usaha bersama.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Joko Supratikto menanggapi hal tersebut. BI, katanya, akan mencoba melakukan program pelatihan pencatatan usaha mikro usaha kecil dalam pembinaan transaksi keuangan yang memadai.

“Ini jadi informasi bagi saya, tim Kordinasi BUMN dan BUMD yang akan saya sampaikan atas potensi dari rumput laut yang ada, dengan pelatihan ini akan ada perbankan yang tertarik, sebab biasanya proses produksi itu banyak, tetapi menjaga pemasaran sangat sulit,” ujarnya.

Ia juga akan mencoba mereplikasikan program yang pernah berhasil dalam pembinaan dan pembudidayaan rumput laut yang pernah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia lainnya untuk dibawa ke Papua. (*)